Aku, dia...
Kadang bingung, kadang lelah karena tingkahnya.
Kadang sayang itu ada untuknya,
Kadang hatiku goyah.
Dilema?
''Itu omong kosong belaka''
Ini bukan dilema,
Tapi benak ini tak kunjung bertemu kata tepat tuk menyebutnya.
Entahlah....
Sempat terbesit tuk akhiri semua
Akankah diriku pntas untuknya?
Pertama yakin, kedua tidak, ketiga yakin,, begitu seterusnya
Mereka terus menari di kepala
Kata-kata terpenggal tanpa makna
Tapi, inilah kenyataanya
Yakin, ragu, sedih, bahagia
Perasaan dan logika yang terus berperang dalam dada
Merebutkan keyakinan semata
Aku mulai kehilangan arah
Membuatku kabur menatap masa depan.
Masih kutatap barisan kata di layar komputerku, barisan surat terakhir dari Takeru. Sudah seminggu sejak e-mail ini kuterima, namun hati ini tak kunjung percaya. Sejak surat elektronik ini ku terima, takeru pun menghilang dari kehidupanku. Entah kemana, entah kenapa. Kulempar pandanganku keluar jendela, hujan sudah mulai reda tapi pertanyaan di benakku tah kunjung reda. Kuncup pertama musim semi sudah mulai terlihat, tapi sepertinya hatiku akan mendapat musim dingin yang lebih panjang.
(Tiga tahun kemudian)
Hari ini pun hujan masih turun dengan derasnya, namun pekerjaan ini mengharuskanku keluar sepagi ini. Seperti biasa aku menunggu bus di halte dekat rumah, karena harus mengejar kereta pertama ke kyoto. Pagi ini aku tak berangkat bersama dengan megumi-chan, sepertinya daya tahan tubuhnya mulai runtuh karena harus kesana kemari, mengejar berita. '' ayumi-chan gomen ne, harus membuatmu ke kyoto sepagi ini. Masalahnya wawancara ini penting sekali, dan tubuhku malah tidak bisa diajak kompromi. Onegaishimasu :) '', sebuah pesan singkat datang dari megumi. Aku tersenyum, kalo dipikir-pikir kasihan juga anak ini '' iie, daijobu megumi- chan :) aku pasti bisa dapetin info bagus dari wawancara ini. Cepet sembuh yah.'' kubalas pesan dari sahabatku itu.
Mengusir sepi di pagi hujan, aku berniat mendengarkan beberapa lagu j-pop kesukaanku. Baru saja mau kupasang headset tiba-tiba '' ohayou'' terdengar sebuah suara yang menyapaku. Saat kulihat asal suara itu, tiba-tiba lidahku berasa kaku, mata berkunang-kunang, tubuhku lemas tak berdaya. Ini sih lebih parah daripada melihat hantu di pagi hari kayak gini. Serasa mimpi, jadi kucubit lenganku namun '' aww, sakit'', dia sosok yang sangat aku kenal, bahkan........aku rindukan.
'' ohayou ayumi-san'' sapanya sekali lagi lengkap dengan senyum hangatnya, sehangat mentari pagi yang bahkan tak terlihat di pagi hujan ini. '' e.e..e..ano... Ohayou.'' diriku terdiam sejenak '' ohayou,,,, takeru-san'' sapaku kaku, sambil terus menyadarkan diri dari mimpi ( seandainya ini adalah mimpi). '' Pagi ini indah yah'' katanya sambil menatap langit yag mendung. '' iya indah, tapi aku tidak suka dengan hujan'' jawabku sambil menunduk, dan ingat setahun lalu ketika dia menghilang saat musim hujan juga. '' doushite?? Hujan itu menyenangkan loh. Apalagi kau bisa melihat pelangi setelah hujan'' katanya hangat. '' karena musim hujan ini pernah pergi, bersama dengan seorang yang berharga untukku.'' jawabku sambil beranjak dari tempat duduk karena kulihat bus yang kutunggu sudah datang. Aku pun bergegas menaiki bus sambil memalingkan mukaku yang sudah terasa panas. Saat menuju bus kurasakan ada seorang yang menaungiku dengan jaketnya. '' kenapa,, kenapa kau seperti ini takeru-san. Kemana kamu pergi selama ini'' ucapku, walau suaraku lirih dan bergetar tapi aku yakin cukup jelas untuk didengar takeru. Kupalingkan muka, dan kupandang wajah itu, ia tampak kurus tapi tak sedikitpun kehangatan diwajahnya menghilang, kehangatan yang sangat kurindukan. '' apa kau menangis ayumi-chan??" tanyanya '' tidak, ini air hujan '' jawabku sekenanya. Aku mempercepat langkahku, tapi takeru menarikku kedalam pelukannya '' tadaima ayumi-san, mulai saat ini aku akan selalu bersamamu'' katanya. Gunung es di hatiku pun berasa runtuh, dan air mataku tak bisa lagi kubendung. ''Gomen ne ayumi-san'' suara takeru terdengar lagi. Disela-sela pelukannya kulihat sebuah pelangi ,melengkung dibalik punggungnya. Hujan pun reda, berganti musim semi yang indah. Kuncup pertama musim semi pun tumbuh dihatiku. '' okaeri, takeru-san'' ucapku.
Diposting oleh
purwanti
komentar (0)

