Tulisan ini terinspirasi dari kajian ustadz Oemar mita, Lc 30 Maret 2018 lalu di masjid tsb nan megah. Masjid ini jadi saksi betapa banyak ummahat yang hadir untuk mengkaji ilmu supaya bisa menjadi muslimah yang lebih kaffah.
"Dunia dan seisinya adalah perhiasan, Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita solehah. " al hadist
"Pilar-pilar kebaikan atau keburukan suatu bangsa adalah baik atau buruk kaum wanita nya" ungkap beliau.
Jika bicara tentang wanita, kita akan teringat dengan sosok yang lembut dengan kekuatan yang tidak terduga yang menyimpan banyak misteri. Percayalah kalian kaum adam akan butuh seumur hidup untuk menyelami dalamnya hati dan pemikiran wanita. Menyoal wanita, baru-baru ini juga diperingati hari feminisme sedunia. Dimana para wanita berbondong-bondong menuntut haknya untuk disetarakan dengan kaum pria.
Untuk persoalan ini ustadz oemar mita melempar sebuah kalimat yang cukup menyentil ego, bahwa " Tiada dzat yang paling sayang sama kaum wanita kecuali Allah SWT, jadi semua aturan yang dibuat untuk kaum wanita semata-mata adalah untuk menjaga kehormatan kaum wanita". Katakanlah berjilbab, banyak yang mengatakam wanita terenggut kebebasannya dengan berjilbab, tidak mampu menunjukkan kecantikannya. Tapi sungguh semua itu diperintahkan demi kebaikan wanita.
Bicara tentang muslimah, wanita muslim. Kita akan bicara tentang aturan-aturannya, dan juga seberapa taat seorang wanita akan aturan itu.
Bicara tentang solihah, kita akan dibawa menyelami kriteria seorang wanita bisa dibilang solihah menurut rasullullah SAW. Patuh; beriman kepada Allah; senantiasa bertaubat atas dosanya; taat kepada Allah dan rasulnya; beribadah yang wajib dan sunnah; serta berpuasa wajib dan sunnah.
Tapi, apakah menjadi wanita yang solehah saja sudah cukup?
Apakah sekedar solih sudah menjadi jaminan mendapat Ridho Allah SWT, sudah jadi jaminan masuk ke surga?
Ternyata belum loh.
Kemudian beliau berkisah tentang sebuah negeri yang penuh dengan maksiat, Allah SWT perintahkan malaikat adzab untuk mengadzab negeri tersebut. Ketika malaikat adzab sampai di negeri tersebut dan akan menimpakan adzab dia melihat seorang hamba yang sedang khusu beribadah. Malaikat tersebut kembali dan melaporkan kalau di negeri yg akan di adzab tersebut ada hamba yang khusu beribadah.
Maka Allah berfirman, jika kau lihat wajah hambaku itu merah karena menahan kemarahan atas kemaksiatan yang merajalela di negeri tersebut, jangan adzab negeri itu. Tapi jika tidak kau temukan wajahnya merah karena kemarahan atas semua kemaksiatan di negeri tersebut, adzablah negeri itu mulai dari hambaku yang sedang khusu beribadah. Ketika kembali ke negeri tersebut malaikat adzab tidak melihat sedikitpun kemarahan dalam hamba yang khusu beribadah, maka negeri itu pun ditimpa adzab yang pedih dan yang paling pertama terkena adzabnya justru adalah hamba yang beriman.
Maka solih saja tidak cukup, karena jadi tanggung jawab kita untuk senantiasa mengingatkan orang-orang di sekitar kita tentang kemungkaran dan kefasikan yang terjadi. Itulah dakwah.
Tapi menurut saya, suatu hal baik jika disampaikan dengan cara yang kurang baik akan menjadi hasil yang kurang baik juga. Maka jika dakwah itu hadir dari kepedulian kita terhadap saudara -saudara kita, maka seharusnya disampaikan dengan cara yang ihsan. Bukankan Rasulullah sebaik-baik contoh dalam berdakwah. Beliau selalu menggunakan cara-cara yang baik.
Beliau marah dengan kemungkaran, tapi beliau menggunakan cara-cara yang baik, cara yang gentle sebagaimana seorang kesatria.
Jadi salihah saja belum cukup, karena kita harus berkontribusi. Berkontribusi untuk agama Allah SWT sesuai kadar dan kemampuan kita sebagai wanita.
Wallahu'alam
