Pendakian ke-3 terlaksana dengan rencana Allah SWT. Rencananya aku mau mendaki bersama teman-teman apoteker, namun satu persatu membatalkan rencananya. Tinggal aku sendiri yang tetap teguh dengan rencana pendakian, yang awalnya mau ke papandayan sampai akhirnya tujuan menjadi ke gunung cikuray.
Untukku pendakian ke cikuray ini memberi pelajaran yang sama serunya seperti pendakian-pendakian sebelumnya. Pendakian kali ini dilakukan bersama 2 orang guide dari @AhadTrekMate dan 2 orang adik yang luar biasa semangatnya buat mendaki gunung, jadi kelompok pendakian cikuray terdiri dari 5 personil. Salah satu hal yang menyenangkan ketika melakukan pendakian, yaitu nambah temen.
Pagi liburan selepas wisuda, terjadi pembicaraan panas antara ibu dan anak mengenai pekerjaan dan JODOH. Tentang kegalauan milih kerjaan, yang jauh atau yang deket, cari yg gajinya pas atau harus ngejar yang gajinya lebih.
Setelah ngalor ngidul ngobrol kerjaan,, tercetus sebuah kalimat yang emmm,, agaaak.. "Jangan terlalu asik di kerjaan, kapan nikahnya kalo gitu". Pembicaran pun berubah jadi banyak petuah dari ibunda kepada putrinya. Dari panjangnya pembicaraan itu, yang aku tangkap adalah 2 hal, bahwa aku harus segera nikah, dan aku terlalu nyantai dan kaya yang gak mikirin nikah. Well,, aku bukannya gak pingin nikah mah, aku hanya belum nemu yang pas aja. Ketika pembicaraan aku rasa semakin tidak kondusif, daripada terjadi peperangan aku memilih diam.
Aku kabur ke kamar, ambil wudhu dan memilih mengadu kepada yang punya hidup. " Allah engkau yang maha memberi, engkau yang maha tahu, sesungguhnya sangat mudah bagimu untuk menyelesaikan perkaraku ini, mudah ya Allah. Hamba hanya ingin membuktikan sendiri bahwa rencanaMu yang paling indah, rezeki hamba tidak akan tertukar, dan akan kuterima tepat pada waktunya. Hamba ingin engkau mengantar rezeki hamba dengan uluran halus sambil tersenyum ya Allah, bukannya kau lempar penuh murka karena hamba meminta dengan cara yang tidak Engkau suka."
"Ya Allah yang jauh dekatkan, yang sulit mudahkan, yang tersembunyi keluarkan". Selepas doa di shalat dhuha, aku teringat koper pemberian atasanku di rumah sakit, hadiah perpisahan. Koper ini masih dibungkus plastik, kubuka pembungkus plastik, dan ku buka buka sleting koper tersebut. Subhanallah, " yang tersembunyi dikeluarkan", ternyata di dalam koper tersebut ada sebuah tas lagi. Sekian lama rezeki itu ada di dekat ku, namun akunya yang belum membukanya.
Mungkin ini jawaban do'aku, atau hanya kelebayan semata. Mungkin begitu pula masalah jodoh yang sedang menggalaukan ini, mungkin jodohku sudah lama ada di dekatku hanya menunggu dikeluarkan. Entah koper mana yang harus aku buka buat menemukan jodohku, yah... Cintaku masih di dalam koper.

