Puree Mind

pure's mind content

    Rabu 8 Maret 2016 seorang teman mengajak berwisata alam. Karena guidenya lagi sidang skripsi, akhirnya kami hanya berangkat berdua. Aku mau nebeng motor temenku jadi kami janjian bertemu di alun-alun bandung untuk menuju sanghyang heleut.

Sanghyang heleut
     Pukul 7.30 aku berangkat dari rumah untuk naik bus ke arah alun-alun. Beruntung ketika sampai di halte lewatlah bus damri jurusan cicaheum-cibereum, ini pertama kali naik bus trans bandung hehehe. Bus ini terlihat seperti di film-film yang ku tonton, penuh sesak dengan kursi penumpang di sisi-sisi yang telah penuh dan penumpang yang berdiri. Ongkos yang ku keluarkan untuk naik bus hanya 3.000 rupiah (jauh dekat sama saja). Pukul 8 lewat aku sudah duduk manis di halte alun-alun. Terlihat keramaian, ada ibu-ibu pengajian, rombongan wisatawan, dan kumpulan orang yang antusias buat meet and greet sama humood al khuder penyanyi timur tengah yang lagi beken.


     Sekitar pukul 8.30 temanku sampai di tempat janjian kami, kemudian kami meluncur ke tempat tujuan kami di padalarang. Jalan yang lurus, dan paaaannnjang dari bandung - cimahi - padalarang. Memasuki daerah citatah mulai terlihat gunung-gunung kapur yang hijau tapi nampak terluka dengan eksploitasinya. Kami melewati wilayah gunung mas sigit (tempat stone garden dan gua pawon). Kami sempat berhenti sejenak di warung nasi padang untuk membeli bekal perjalanan kami. Sampai di daerah cipatat, kami masuk ke jalan dengan gapura bertuliskan "PLTA SAGULING". Perjalanan dari gerbang tersebut masih sekitar 15 menit.

Pemandangan di wilayah PLTA saguling

      Kami menyusuri jalan di wilayah PLTA saguling dang perkebunan nusantara, sampai ke power house. Di daerah power house, warga sekitar akan menawarkan jasa memandu ke sanghyang heleut. Namun menurut g**gle maps kami masih harus berjalan, jadi kami masih memacu motor kami beberapa ratus meter ke atas. Di perjalanan, kami menemukan air terjun kecil, kemudian perjalanan berlanjut sampai sebuah warung yg bisa dipakai lahan parkir.

      Usut punya usut, jalur ke sanghyang heleut memang bisa dilalui dengan 2 jalur yaitu jalur bawah dari power house akan memakan waktu 1-2 jam perjalanan, sedangkan lewat atas yaitu warung yang kami singgahi hanya memakan waktu 45 menit perjalanan. Setelah mendengar berbagai informasi dari petugas perkebunan, kami pun melanjutkan perjalanan tanpa pemandu. Menurut informasi yang saya dapat, untuk memasuki wilayah ini belum ada tiket masuknya, tapi bapak perkebunan tersebut meminta biaya parkir dan tiket masuk sebesar 20.000 rupiah). Kami pun mulai perjalanan, diawal perjalanan kami melewati area perkebunan yang ditanami padi ladang, pohon pisang, dan jagung, kemudian memasuki wilayah hutan dengan tanah yang cukup licin akibat hujan. Terlihat pula beberapa bekas tanah longsor. Karena jalan yang menurun, kami hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di sanghyang heleut.




      Kami sampai di tempat yang di sebut sanghyang heleut pukul 11.30. Mungkin karena musim hujan, sanghyang heleut yang kami temui berair kecoklatan, bukannya hijau kebiruan seperti foto di mesin pencari. Wilayahnya berupa sungai atau hulu sungai yang cukup luas dengan bebatuan besar. Sekilas tempat ini mirip grand canyon di daerah pangandaran. Kami membuka nasi padang, dan mengisi dulu perut kami. Setelah kenyang kami mulai berpetualang mencari spot foto yang asik hehe. Di pinggiran sungai sudah terlihat beberapa gubuk istirahat, warung dan mushola tapi sepi karena kami datang saat weekdays.
Sanghyang Heleut
   Puas berfoto di tengah terik matahari, kami berteduh karena kepala mulai terasa pusing kepanasan. Pukul 12.45 kami memutuskan pulang. Seperti kata bapak penjaga bahwa perjalanan pulang akan lebih berat karena jalur yang menanjak. Kami pun merasakan hal tersebut, ditambah dengan kepala yang mulai berat. Temanku pun mengalami hal yang sama, sampai beberapa kali harus berhenti untuk muntah. Perjalanan kami lanjutkan pelan-pelan, kalau dia pusing kami istirahat untuk ngemil biskuit atau ngobrol sejenak sampai dia merasa baikan. Sekitar pukul 14.00 kami sampai di warung. Kami sholat, istirahat, dan memesan teh manis hangat (ternyata manjur untuk mengurangi pusing kepala).

      Setelah menyeruput teh manis, ngemil dan ngobrol (curcol sih sebenernya) sepertinya dia sudah baikan maka jam 15.00 kami memutuskan untuk jalan pulang, motor aku yang bawa. I am on bad direction, kita salah arah malah nyasar ke arah bendungan saguling bukannya jalan pulang ahaha. Kami harus putar arah dan harus aku akui sudah cukup jauh kami nyasar. Nyasar jauh, jalan belok- belok, ditambah hujan turun wah mantap, untung temanku sudah sehat cuma tinggal sakit kepala sedikit katanya. Hujan makin deras, kami memutuskaan berteduh dahulu di warung. Temenku makan banyak gorengan (mungkin dia lapar). Setelah hujan reda pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan, dan berhenti di swalayan untuk membeli analgetik. Ketika akan melanjutkan perjalanan terjadilah insiden motor gak bisa di starter, jadi harus didorong ke bengkel (untung bengkel cukup dekat) pake insiden ketinggalan helm pula tuh. Tapi kami jadi bertemu orang- orang baik, pegawai bengkel yang mau nyusulin buat nganter helm (makasih kang). Kami sampai di bandung pukul 18.00. Secara keseluruhan, perjalanan ini banyak hikmahnya.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan pilih id sebelum berkomentar, usahakan jangan pake anonim yah ^^

About this blog

Pages

yang udah intip blog ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
purwanti
Fresh graduate apoteker yang sedang berjuang untuk istiqomah, bercita-cita masuk surga, masih berjuang jadi manusia yang berguna dan selalu lebih baik dari hari kemarin, senang mencoba hal baru.kegiatan ngeblog sebagai sarana berbagi ilmu juga sebagai sarana belajar .suka membaca dan cinta indonesia ^^
Lihat profil lengkapku

kontak

Cari Blog Ini