Puree Mind

pure's mind content

"Puncak hanyalah bonus, tujuan kita naik gunung adalah pulang dengan selamat."


       Sebuah kalimat yang aku kenal, dan pahami sejak mulai suka dengan kegiatan mendaki. Kalau dipikir- pikir dengan pemikiran egois sih,, ngapain jauh- jauh, cape - cape naik gunung kalo gak bisa sampe puncak. Puncak memang tempat yang diburu banyak orang, selain keindahan pemandangannya, juga kebanggaan karena sudah sampai di puncak tidak ternilai harganya. Kebanggan menaklukan puncak juga kadang membuat orang sombong dan lupa diri, bahwa dirinya masih berpijak di bumi sang Maha Kuasa. Perjalanan ke puncak dengan perasaan sombong dan angkuh untuk menaklukan puncak akan menjadi perjalanan yang merusak, bukannya penuh makna. Sampah yang berserakan, vandalisme, bahkan kebakaran hutan bisa jadi hasil dari perjalanan semacam ini.

         Seharusnya alih-alih membuat kerusakan, pendakian harus jadi sebuah perjalanan mencari makna, usaha untuk melestarikan alam, dan lebih merasakan syukur atas kenikmatan yang Allah SWT berikan. Yang saya rasakan, ketika naik gunung air putih pun akan kita minum dengan penuh rasa syukur ketika kerongkongan telah kering karena letihnya perjalanan. Mie instan, dan nasi putih pun jadi makanan paling enak sedunia (haha), dan secangkir teh manis hangat jadi minuman paling enak di tengah dinginnya udara pegunungan.

          Kalo perjalanan mendaki gunung ini kita analogikan sebagai salah satu episode kehidupan, dan puncak adalah sebuah kesuksesan maka jadi seperti ini: " dalam menjalani kehidupan,kesuksesan adalah bonus, yang menjadi tujuan kehidupan ini adalah pulang kepada sang pencipta dengan selamat (jauh dari api neraka)".

          Seperti halnya mendaki gunung, yang harus kita maknai adalah prosesnya, dan usahakan pelajaran dari suatu pendakian kita ambil untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan pendakian lain.
 Wallohu'alam

     Bulan Agustus 2015 ini, saya mendapat kesempatan untuk kembali mendaki salah satu gunung di pulau jawa. Ini merupakan pengalaman kedua saya mendaki gunung. Kali ini pilihan jatuh pada gunung ciremai, dengan predikat puncak gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian puncak 3078 mdpl. Jalur pendakian gunung ciremai bisa dilakukan lewat jalur Apuy (Majalengka), Palutungan, Linggarjati, dan Linggasana. Kami memilih jalur pendakian linggarjati. Saat pertama berdiskusi dengan kakak sepupu, saya sangat excited untuk memulai pendakian, tapi agak nge-per juga saat saya mencari info dari berbagai situs. Informasi yang saya dapatkan bahwa jalur linggarjati adalah jalur yang paling ekstrim dan berat, namun merupakan favorit pada pendaki untuk ditaklukan (fiuhhh...bisa gak yah??). Belum lagi berbagai cerita mistis yang ada di gunung tersebut, tapi saya bulatkan tekad saya untuk melanjutkan pendakian ini. Pada pendakian kali ini saya ikut rombongan kakak sepupu saya, kami berangkat dengan 5 orang personil, saya, kakak sepupu saya dan 3 orang temannya. Berangkat dengan 4 orang cowok, sebagai satu-satuny personil cewek ada enak dan gak enaknya sih. Enaknya, banyak yang jagain, tapi gak enaknya itu gak ada temen berbagi rasa ( you know laah,, sesama cewek gitu...).

     Cewe kok kerjaannya naik gunung, naik pelaminannya kapan? Begitu ungkapan yang terlontar dari seseorang ketika kupajang foto pendakian terakhirku. Naik gunung dan naik pelaminan itu menurutku dua hal yang sama-sama bikin excited dan berdebar-debar, keduanya butuh persiapan dan pengetahuan yang jelas tentang jalur pendakian yang akan dilalui.  Yang pasti, untukku naik gunung dan naik pelaminan sama-sama membutuhkan pendamping yang siap mengantar dan menjaga kita sepanjang perjalanan sampai puncak dan pulang lagi ke rumah dengan selamat.

      Sedikit banyak, perjalanan naik gunung itu memberi pelajaran berharga yang bisa diterapkan juga ketika naik pelaminan, gak percaya??? Ini buktinya

          Post ini adalah tentang kegalauan gadis 25 tahun yang sudah kelamaan LDR sama belahan jiwanya. Usia ini memang usia yang rawan dengan kegalauan. Event silaturahmi bisa jadi hal yang paling menakutkan karena takut untuk ditanya " kapan nikah nih?", "mana calonnya?", atau " mana mantannya ?" #ehh. Berbeda dari beberapa tahun lalu ketika masih kisaran usia 20 an, yang bisa dengan gampang jawab, "belum tante, masih kuliah dulu." atau "hehe, belum ada yang cocok tante." dan sejak saat itu dari tahun ke tahun makin berat aja tuh pertanyaan. Belum lagi karena saudara yang satu angkatan denganku sudah menikah dan punya momongan. Untungnya saya punya orang tua yang tidak terlalu ekstrim dalam masalah jodoh. Pernah sih mereka nanya, tapi hanya aku jawab "jodoh mah pasti udah ada mah, cuma kalo Allah belum mempertemukan kita bisa apa. Kita kan cuma bisa ikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan" jawaban sok bijak gitu, tapi saya yakin beliau tau isi hati saya :((. Pernah juga beliau berusaha mengenalkan dengan salah satu putra kenalannya, tapi cuma jadi sebatas chattingan saja, tanpa sempat bertemu muka.
     


About this blog

Pages

yang udah intip blog ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
purwanti
Fresh graduate apoteker yang sedang berjuang untuk istiqomah, bercita-cita masuk surga, masih berjuang jadi manusia yang berguna dan selalu lebih baik dari hari kemarin, senang mencoba hal baru.kegiatan ngeblog sebagai sarana berbagi ilmu juga sebagai sarana belajar .suka membaca dan cinta indonesia ^^
Lihat profil lengkapku

kontak

Cari Blog Ini