"Puncak hanyalah bonus, tujuan kita naik gunung adalah pulang dengan selamat."
Sebuah kalimat yang aku kenal, dan pahami sejak mulai suka dengan kegiatan mendaki. Kalau dipikir- pikir dengan pemikiran egois sih,, ngapain jauh- jauh, cape - cape naik gunung kalo gak bisa sampe puncak. Puncak memang tempat yang diburu banyak orang, selain keindahan pemandangannya, juga kebanggaan karena sudah sampai di puncak tidak ternilai harganya. Kebanggan menaklukan puncak juga kadang membuat orang sombong dan lupa diri, bahwa dirinya masih berpijak di bumi sang Maha Kuasa. Perjalanan ke puncak dengan perasaan sombong dan angkuh untuk menaklukan puncak akan menjadi perjalanan yang merusak, bukannya penuh makna. Sampah yang berserakan, vandalisme, bahkan kebakaran hutan bisa jadi hasil dari perjalanan semacam ini.
Seharusnya alih-alih membuat kerusakan, pendakian harus jadi sebuah perjalanan mencari makna, usaha untuk melestarikan alam, dan lebih merasakan syukur atas kenikmatan yang Allah SWT berikan. Yang saya rasakan, ketika naik gunung air putih pun akan kita minum dengan penuh rasa syukur ketika kerongkongan telah kering karena letihnya perjalanan. Mie instan, dan nasi putih pun jadi makanan paling enak sedunia (haha), dan secangkir teh manis hangat jadi minuman paling enak di tengah dinginnya udara pegunungan.
Kalo perjalanan mendaki gunung ini kita analogikan sebagai salah satu episode kehidupan, dan puncak adalah sebuah kesuksesan maka jadi seperti ini: " dalam menjalani kehidupan,kesuksesan adalah bonus, yang menjadi tujuan kehidupan ini adalah pulang kepada sang pencipta dengan selamat (jauh dari api neraka)".
Seperti halnya mendaki gunung, yang harus kita maknai adalah prosesnya, dan usahakan pelajaran dari suatu pendakian kita ambil untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan pendakian lain.
Wallohu'alam

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan pilih id sebelum berkomentar, usahakan jangan pake anonim yah ^^