Bulan Agustus 2015 ini, saya mendapat kesempatan untuk kembali mendaki salah satu gunung di pulau jawa. Ini merupakan pengalaman kedua saya mendaki gunung. Kali ini pilihan jatuh pada gunung ciremai, dengan predikat puncak gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian puncak 3078 mdpl. Jalur pendakian gunung ciremai bisa dilakukan lewat jalur Apuy (Majalengka), Palutungan, Linggarjati, dan Linggasana. Kami memilih jalur pendakian linggarjati. Saat pertama berdiskusi dengan kakak sepupu, saya sangat excited untuk memulai pendakian, tapi agak nge-per juga saat saya mencari info dari berbagai situs. Informasi yang saya dapatkan bahwa jalur linggarjati adalah jalur yang paling ekstrim dan berat, namun merupakan favorit pada pendaki untuk ditaklukan (fiuhhh...bisa gak yah??). Belum lagi berbagai cerita mistis yang ada di gunung tersebut, tapi saya bulatkan tekad saya untuk melanjutkan pendakian ini. Pada pendakian kali ini saya ikut rombongan kakak sepupu saya, kami berangkat dengan 5 orang personil, saya, kakak sepupu saya dan 3 orang temannya. Berangkat dengan 4 orang cowok, sebagai satu-satuny personil cewek ada enak dan gak enaknya sih. Enaknya, banyak yang jagain, tapi gak enaknya itu gak ada temen berbagi rasa ( you know laah,, sesama cewek gitu...).
Sabtu tanggal 15 Agustus, kakak sepupu saya datang ke bandung untuk menjemput saya. Kami berangkat dari
Cicaheum menggunakan Damri jurusan kuningan pukul 17.00 dan sampai di kuningan sekitar jam 22.30 pake acara kebablasan segala lagi. Hari sudah malam dan tidak ada lagi kendaraan yang bisa membawa kami, akhirnya harus naik ojeg ke pos penndakian linggarjati dengan ongkos Rp. 30.000 (fiuuhh), tapi karena lapar, kami putuskan untuk mengisi perut dulu. Setelah sampai di pos pendakian, kami mengurus simaksi, dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000. Tukang ojeg ternyata masih menunggu kami mengurus simaksi, ternyata kakak sepupu saya memutuskan untuk melanjutkan sampai pos cibunar (ngojek.... bayangin deh naik ojek sambil bawa carrier dengan trek nanjak belok nanjak belok =_=). Akhirnya kami bermalam di cibunar sambil menunggu 3 orang teman kakak sepupu saya.
 |
| Pagi di cibunar |
terminal
Minggu pagi pukul 8.00 teman-teman yang kami tunggu sudah tiba, ternyata mereka bermalam di pos pendaftaran. Setelah sarapan, kami melakukan perjalanan. Trek awal merupakan daerah pepohonan pinus, asiknya tuh karena momen 17 agustus, jadi banyak pendaki lain yang melakukan pendakian bersama kami sehingga sepanjangan perjalanan kami bisa bertegur sapa dan saling memberi semangat hehe. Setelah beberapa saat berjalan kami sampai di pos leuwueng datar. Salah satu hal yang gak enak kalo mendaki dengan kelompok yang di dominasi cowok adalah, gak ada temen kalo mau selfie-selfie (hahaha... alay). Walaupun ini kali kedua saya mendaki gunung, tapi ini adalah kali pertama saya mendaki dengan membawa carrier. Dari pertama semangat membara, saat perjalanan menuju pos codang amis, napas saya udah dua lima dua lima .. =_= Alhasil dengan segenap rasa penyesalan saya harus minta istirahat berulang –ulang ( heuuu gomennasai).
 |
| Trek menuju pos seruni |
Di gunung ciremai ini tidak terdapat sumber air di sepanjang perjalanan, pos cibunar adalah pos terakhir kita bisa mendapat pasokan air, oleh karena itu kita harus mempersiapkan dan memperkirakan kebutuhan air. Setelah melewati pos condang amis, pos selanjutnya adalah pos kuburan kuda, kemudian pangalap. Di pos pangalap ini terdapat beberapa orang ranger linggarjati yang berjaga. Ranger Linggarjati memang sedang gencar berjaga, selain karena banyaknya pendaki juga karena sedang terjadi kebakaran di atas. Para pendaki pun dihimbau untuk tidak naik sampai puncak. Kami pun memutuskan membuat tenda di sekitar pangalap, setelah mencari tempat, akhirnya kami membuat tenda sekitar pukul 14.00. Sambil beristirahat, dan memasak, kami bertanya keadaan puncak pada pendaki yang turun. Setelah mendapat informasi yang cukup, maka kami memutuskan untuk summit, malam ini.
 |
| Nge-teh dulu sebelum summit |
Pukul 23.00 kami bangun dan mempersiapkan perbekalan untuk summit, perjalanan masih cukup jauh sehingga kami harus membawa banyak perbekalan air. Perjalanan pun dimulai, dengan mengucapkan bismillah. Kami berjalan dengan formasi mas angga di depan, saya kedua, kakak sepupu saya, mas harvin, dan mas yadi yang terakhir. Hal yang unik adalah ketika jalan pada malam hari seorang yang jalan paling belakang akan membawa lonceng, agar bisa diketahui oleh orang yang paling depan (biar gak ilang hehe..). lagi-lagi saya bersyukur karena ada banyak pendaki lain yang sedang berada di permukaan gunung ini, sehingga sepanjang perjalanan kami akan bertemu dengan pendaki lain yang naik, turun, atau tenda-tenda pendaki. Dingin yang awalnya menusuk, berubah menjadi rasa panas dan keringat yang membasahi. Berkali-kali kami harus berstirahat untuk sekedar melemaskan otor, membasahi tenggorokan kami yang kering, memejamkan mata, atau mengisi perut. Pos tanjakan seruni, bapa tere (yang kejam kayak bapak tiri T.T), batu lingga pun kami lewati. Pos selanjutya adalah sanggabuana I dan sangga buana II, kebahagiaan tersendiri ketika dalam kegelapan kami akhirnya sampai di pos pendakian (hiks..hiks). menuju pos pengasinan, langit sudah mulai terlihat, dan kerlip bintang menimbulkan kekaguman yang lain di sepanjang perjalanan ini. Walaupun trek berbatu, berdebu, akhirnya kami sampai di pos pengasinan. Disini ada banyak tenda pendaki, padahal di pos ini anginnya gede banget loh. Di pos pengasinan juga sudah mulai bisa ditemukan pohon edelweis , EDELWEIS!! (WAAHHH... akhirnya bisa lihat edelweis >.<) walau hari masih gelap (sekitar pukul 04.00) tapi senengnya bukan main bisa liat edelweis (biarin deh alay juga).
Perjalanan kami lanjutkan menuju puncak (ke puncak asmara... lalalala...) ternyata puncak itu tidak sedekat yang saya bayangkan, masih sekitar 800meter lagi kawan. Dalam perjalanan menuju puncak, tebak apa yang kami lihat, gumpalah awan berjajar, bagai atap yang empuk berwarna kemasan karena disinari cahaya matahari yang baru terbit. Walaupun belum sampai puncak, kami bisa menikmati pemandangan yag indah tersebut, kami pun beristirahat beberapa saat, mencari spot yang asik untuk menikmati sunrise dan berfoto :P.
 |
| Sun rise di perjalanan menuju puncak |
Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Yang harus digaris bawahi pada bagian ini adalah bawa masker yang tebel. Kenapa? Karena debunya superrr banyak. Dan akhirnya sampailah kami di puncak asmara, #ehh puncak ciremai. Kalo bisa saya gambarkan puncak ciremai itu anginnya kenceng (cocok buat main layangan tuh), kawahnya guedeeeeeee banget (kita bisa mengitari kawah ini, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam) awannya kereeennn, luarr, dan keliatan empuk banget. Kita bisa lihat puncak gunung slamet dari sini. Yang menyedihkan adalah banyak sampah berserakan, ada botol, kertas greeting yang abis foto terus dibuang sembarangan. Jadi buat para pendaki, tolong dijaga dong gunungnya, jangan abis manis sepah dibuang. Abis seneng-sengeng, foto-foto, sampahnya dibuang sembarangan. Setelah puas menikmati atap jawa barat ini, kami pun turun menuju tenda untuk bersiap-siap pulang. Kami sampai di tenda sekitar pukul 13.00, berkemas dan bersiap pulang. Sekitar pukul 15.00 kami berangkat pulang, dan sampai di pos cibunar sekitar pukul 19.00.
 |
| Team |
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan pilih id sebelum berkomentar, usahakan jangan pake anonim yah ^^