Pembawaanya yang tenang dan tak banyak bicara membuat benakku penuh tanya tentangnya. Sesekali dia tertawa ketika bercakap dengan teman-temannya, celetukan khas pun kadang meluncur dari mulutnya dan membuat teman-temannya tertawa lagi. Aku tertarik menyelami hatinya, menyelami sikapnya.. Ah tapi apalah daya, dekat dengannya pun aku tak bisa. Setiap hari hanya bisa menatapnya dalam diam, dan ikut tersenyum ketika dia bahagia.
---
Malu, itu hal pertama yang terpikirkan ketika seorang teman berkisah masa-masa kecilnya. Dia begitu tegar karena tempaan hidupnya, tanpa kehilangan sedikitpun rasa syukurnya. Kubayangkan di usia yang sama dengannya, yang ada di benakku hanyalah keegoisan dan kemanjaan yang kekanakan.
"Puncak hanyalah bonus, tujuan kita naik gunung adalah pulang dengan selamat."
Sebuah kalimat yang aku kenal, dan pahami sejak mulai suka dengan kegiatan mendaki. Kalau dipikir- pikir dengan pemikiran egois sih,, ngapain jauh- jauh, cape - cape naik gunung kalo gak bisa sampe puncak. Puncak memang tempat yang diburu banyak orang, selain keindahan pemandangannya, juga kebanggaan karena sudah sampai di puncak tidak ternilai harganya. Kebanggan menaklukan puncak juga kadang membuat orang sombong dan lupa diri, bahwa dirinya masih berpijak di bumi sang Maha Kuasa. Perjalanan ke puncak dengan perasaan sombong dan angkuh untuk menaklukan puncak akan menjadi perjalanan yang merusak, bukannya penuh makna. Sampah yang berserakan, vandalisme, bahkan kebakaran hutan bisa jadi hasil dari perjalanan semacam ini.
Ini adalah kali pertama saya ditilang polisi. Gini ceritanya, tanggal 15 Agustus

